Category Archives: Refleksi yang biasa-biasa saja

Yang Utama

Kemarin aku iseng ikut giveaway yang diadakan oleh temanku sesama penerjemah, Uci. Silakan mampir ke blognya kalau berminat. Awalnya aku tidak berminat ikut. Sepertinya aku cenderung malas kalau ikut lomba, kuis, dan semacamnya. Tapi entah kenapa setelah aku baca-baca komentar … Continue reading

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , | 4 Comments

Keinginan yang Sempat Terlupakan

Aku kurang bisa menyanyi. Bisa-bisaan saja. Dulu pernah ikut kor, sempat terpaksa jadi solis di gereja. Tapi rasanya suaraku pas-pasan. Selepas SMA, aku tidak bersinggungan lagi dengan urusan nyanyian di gereja. Maksudnya, tidak ikut kor dan semacamnya lo, bukan jadi … Continue reading

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , , | 4 Comments

Pentingnya Kesadaran Dalam Perubahan

Setujukah kamu bahwa membuang sampah sembarangan itu adalah tindakan yang buruk dan merugikan diri sendiri serta orang lain? Aku percaya banyak orang setuju. Tapi aku yakin masih banyak yang masih saja seenaknya membuang sampah sembarangan–termasuk anak sekolah, guru, orang tua, … Continue reading

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , , | 4 Comments

Tawuran Lagi?

Barangkali aku orang yang telat tahu soal kehebohan tawuran yang terjadi di Jakarta belakangan ini. Aku tahunya lewat radio, pas nyetel acara Pagi-pagi di I-radio. Waktu itu penyiarnya membahas soal tawuran. Elho, ada tawuran lagi? Astagakudanil … Selama aku di … Continue reading

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , , | 13 Comments

Hiburan Sebatang Rumput

Aku kumat aras-arasen lagi. Hehe. Kurang lebih sudah seminggu ya aku tidak posting tulisan di blog. Bingung mau mulai nulis dari mana dan cerita apa. Mungkin singkat saja deh. Peristiwa ini sudah cukup lama. Tapi aku tidak pernah melupakannya. Lagi … Continue reading

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , , , | 9 Comments

Teka-Teki di Balik Pengamen

Hari ini dua kali aku naik metromini. Pertama, naik 46, dan kedua naik 49. Dua metromini itu melewati jalan Utan Kayu. Biasanya setiap kali melewati jalan itu, ada pengamen yang naik. Tadi juga begitu. Biasanya aku agak enggan menyisihkan uang … Continue reading

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , , | 10 Comments

Kemarahan yang Tertinggal

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan menceritakan masalah kantornya kepadaku. + Kamu tahu kan kalau Mas X itu sudah keluar dari kantorku? – Iya. Tahu. Tahunya juga telat hehe. Sudah setahun berlalu, baru kamu cerita sama aku kan? + Tapi … Continue reading

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , , , | 8 Comments

Bukan Rahasia

Beberapa waktu yang lalu aku menerjemahkan buku berjudul Broken Open, tulisan Elizabeth Lesser. Bukunya dalam bahasa Indonesia belum terbit sih. Aku sangat terkesan saat menerjemahkan buku ini. Buku ini berisi kumpulan kisah serta artikel-artikel pemikiran sang penulis. Yang ditulis tak … Continue reading

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , | 8 Comments

Pelajaran dari Sebuah Pohon

Saat aku ke Belitung beberapa waktu yang lalu, aku melihat pohon yang tumbuh pada batu besar. Menurutku, pohon ini menarik. Kenapa? Karena dia ulet dan pantang menyerah. Akarnya bahkan bisa menembus batu. Hebat ya? Dan dia melakukannya dalam diam. Tapi … Continue reading

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , , , | 9 Comments

Tumpul

Aku baru sekitar empat tahunan tinggal di Jakarta. Masih terbilang warga “baru” dan belum bisa jatuh cinta pada kota ini. Dan tidak pengin jatuh cinta pada Jakarta juga sih. Sampai sekarang masih belum bisa paham jika ada orang yang dengan … Continue reading

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , , | 6 Comments