Tawuran Lagi?

Barangkali aku orang yang telat tahu soal kehebohan tawuran yang terjadi di Jakarta belakangan ini. Aku tahunya lewat radio, pas nyetel acara Pagi-pagi di I-radio. Waktu itu penyiarnya membahas soal tawuran. Elho, ada tawuran lagi? Astagakudanil …

Selama aku di Jakarta, aku pernah melihat langsung anak-anak sekolah yang tawuran. Nggak heboh banget sih. Tapi sempat membuatku takut juga lo. Waktu itu aku sedang naik kendaraan umum, dan di luar ada anak-anak berseragam sekolah yang heboh kejar-kejaran. Dalam hati aku berkata, “Oooh … begini to tawuran pelajar itu?” Aku lupa ada yang melempar batu apa nggak. Yang jelas ada beberapa anak yang berteriak-teriak dengan nada marah dan mengancam. Aku berharap sang sopir cepat-cepat melaju saja. Pernah juga waktu itu angkot yang kutumpangi melenceng dari jalurnya. “Lho … lho … kok belok, Bang?” tanya salah satu penumpang kepada sopir. Sopir itu lalu mengatakan bahwa di ujung jalan sana ada tawuran, jadi lebih baik tidak lewat jalan sesuai dengan trayeknya. Memang ya, tawuran pelajar di Jakarta itu semacam suatu “kebiasaan”. (Semoga tawuran ini tidak jadi “kebiasaan” yang membuat orang akhirnya berkomentar, “Nikmati saja.”) Dan untung saja, aku belum pernah melihat tawuran yang lebih heboh dari itu. Takut juga deh kalau ketemu tawuran yang pelakunya bawa senjata.

Zaman aku sekolah, aku malah tidak pernah menyaksikan tawuran. Kalau lihat pelajar saling mengejek, bicara kasar satu sama lain sih pernah. Mungkin itu pengaruh darah muda ya? Itu bukan contoh yang baik juga sih, kupikir.

Sebetulnya aku terheran-heran jika ada pelajar (atau siapa pun itu) yang melakukan kekerasan. Sampai bawa senjata pula. Misalnya, sebenci-bencinya atau sesebel-sebelnya aku sama seseorang, apa sih yang kulakukan? Paling orang itu kucubit. Apakah aku akan memukul? Mungkin, tapi kok kayaknya tenagaku masih kurang kuat ya kalau memukul. Mungkin paling pol adu mulut. Tidak terpikir rasanya untuk melukai pakai senjata (tajam). (Serem lihat darah!) Entah kalau untuk mempertahankan nyawa ya? Tapi amit-amit … jangan sampai aku terlibat dalam situasi seperti itu.

Aku selalu punya ekspetasi yang tinggi pada orang yang terpelajar. Gampangnya ya melihat perkataan dan tindakannya. Setidaknya apa yang ia katakan dan lakukan mencerminkan dia orang yang berpendidikan. Semakin tinggi gelar orang tersebut, atau semakin tinggi pula ekspetasiku. Tapi memang ekspetasiku tidak selamanya terpenuhi. Misalnya, kalau orang itu berpendidikan tinggi, tapi dia suka utang dan nggak dibayar … runtuh deh penilaianku yang sudah ndakik-ndakik (tinggi) ke orang itu. Eh, utang yang nggak dibayar itu termasuk kekerasan juga kan ya? Kekerasan pada dompet dan rekening orang lain. Hehehe … Ini cuma misalnya, lo ya. Tidak bermaksud menyindir siapa pun. Atau salah seorang temanku pernah bilang, “Pak X itu sekolahnya tinggi, tapi pas balik ke kampus, dia nggak melakukan penelitian apa pun.” Well, aku bukan dosen. Bukan pula peneliti. Tapi ekspetasiku pada seorang “scholar” apalagi dia pengajar di sekolah tinggi, mestinya dia terus mengembangkan apa yang sedang ia pelajari. Salah satunya ya dengan penelitian. Mungkin lo ya. Sekali lagi, aku tidak tahu banyak soal itu. Tolong koreksi, jika aku keliru. Senada pula ekspetasiku pada seorang pelajar. Pelajar itu dalam bayanganku, ya rajin belajar. Tidak mudah mengucapkan kata-kata kotor. (Aku selalu berpikir kata-kata itu sumbernya dari hati dan pikiran. Kalau yang dikeluarkan adalah kata-kata kotor, jadi sumbernya …? Entahlah.) Jadi, kalau pelajar sampai bawa senjata ke sekolah dan sampai tawuran, itu sebetulnya merendahkan martabatnya sebagai pelajar kan?

Aku pikir, tawuran itu cuma ekses. Mungkin para pelakunya itu punya gerundelan, punya uneg-uneg, isi pikiran, kekacauan hati/pikiran yang tidak tersalurkan. Plus dia punya tenaga berlebih dan nyali yang tinggi. Jadinya, berantem deh. Mungkin mereka tidak terbiasa berpikir ulang ketika hendak bertindak. Mungkin mereka tidak punya pikiran bahwa orang lain itu sama berharganya dengan dirinya sendiri. Mungkin mereka tidak pernah merenungkan bahwa dengan menyimpan bara dalam hati, diri mereka akan terbakar dan dapat menyakiti orang lain. Mungkin …

Tapi barangkali yang lebih penting dari semua itu aku sebagai seorang pribadi, aku mesti mawas diri. Mungkin sekarang aku bisa bilang bahwa aku tidak mungkin melakukan kekerasan pada orang lain. Tapi jika aku tidak mawas diri dan tidak terus-menerus meneliti batin, bukan tidak mungkin aku melakukan hal semacam itu. Setitik kebencian mungkin ibarat bara yang bisa dengan mudah membesar dan membakar apa saja yang ada di sekitarnya. Aku jadi ingat perkataan yang sering disitir: “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Nulisnya mudah. Ngomongnya mudah. Tapi untuk menerapkannya? Sama sekali tidak mudah. Mungkin sebaiknya kita saling mendukung dan mengingatkan. Mungkin …

Semoga di kemudian hari tidak ada pertanyaan: Tawuran lagi?

This entry was posted in Refleksi yang biasa-biasa saja and tagged , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Tawuran Lagi?

  1. Evi says:

    Aku gak habis pikir Mbak Kris, apa ya yg ada dalam pikiran anak yg tega banget menjagal temannya itu. Kok ya gak merasa kasihan yah? Apa sih yang terjadi selama masa pertumbuhkan sehingga membuat kita kehilangan rasa iba? Yang beginian berkutat terus dalam kepalaku Mbak, gak tahu mesti bertanya ke siapa tepatnya :)

    Nah, iya, saya juga bertanya-tanya tentang hal itu Uni Evi, apa sih yang ada dalam kepala anak itu? Bagi saya memukul orang lain itu hal yang sulit, tapi kok dia bisa membunuh ya?

  2. Tragisnya sampe ada korban jiwa, dan itu TIDAK PERNAH di evaluasi secara hukum utk penindakan si pelaku, sehingga tidak ada efek jera. Mungkin krn status pelajar, sehingga di anggapnya LUMRAH krn masih masa2nya..hmmmm
    Pada akhirnya ya kita nikmati aja kisah selanjutnya seperti apa? iya toh???? hehehe panjang bener komengku, maaf lho mbak..hahahaha

    salam, ^_^

    Mungkin perlu ditelaah secara psikologis juga ya?

  3. dulu kalau tawuran paling cuma lempar lempar batu. sekarang sudah bawa senjata tajam dan tujuannya bisa sampai membunuh orang.. kok nekat dan tega itu saja yang ga habis pikir, apa sih yang ada dipikiran anak anak itu… ck ck

    apa pikiran dan tenaga mereka nggak tersalurkan ya? saya juga binun…

  4. Arman says:

    duh moga2 anak2 itu semakin nyadar ya…. moga2 gak ada tawuran2 lagi di masa depan…

    amin! serem ya kalau sering ada tawuran.

  5. nh18 says:

    Saya tidak bisa sok-sok suci untuk mengatakan bahwa tidak pernah tawuran.
    hawong saya salah satu alumni dari sekolah itu
    Namun demikian … saya sangat prihatin dengan cara tawuran anak jaman sekarang … kenapa kok kayak mau perang beneran begitu ya … segala gir dipakai, clurit, samurai, … pisau … golok … adduuhhh …

    Dulu perasaan caranya nggak norak gitu deh …

    Mudah-mudahan tidak ada lagi kejadian yang seperti itu …

    Salam saya

    Saya bingung juga Om, kok mereka kepikir pakai senjata lo ya?

  6. prih says:

    Tawuran pendapat adu ngotot berubah bentuk menjadi tawuran yang nggegirisi Jeng. Terimakasih refleksi bahasa kasihnya.
    Selamat berakhir pekan

    Iya, Bu. Kok ya sampai pakai kekerasan, itu yang membuat saya gumun.

  7. marsudiyanto says:

    Kalau di kota kecil seperti kota saya ada gesekan antar pelajar juga tapi nggak sampai berubah menjadi masal, apalagi pakai senjata tajam dan bunuh2an.
    Semoga yg di Jakarta tak merembet ke kota saya

    Semoga cukup anak Jakarta saja yang nakal :D Hehe. Maksudnya, jangan sampai nular ke daerah lain, dan pelajar Jakarta kembali adem.

  8. Pakde Cholik says:

    Saya memang gak pernah tawuran jeng, kasihan emak
    Selamat sore sahabat.
    Terima kasih atas artikelnya yang menarik dan inspiratif

    Jangan lupa mengikuti kontes Unggulan Indonesia Bersatu lho ya. Klik saja : http://tamanblogger.com/blogging/konteskuis/kontes-unggulan-indonesia-bersatu-cara-mencegah-dan-menanggulangi-tawuran

    Terima kasih.

    Salam hangat dari Surabaya

  9. nanaharmanto says:

    Waktu nonton berita tawuran sampai ada yang terbunuh itu aku sampai makplenggong… edan… masih remaja kok pikirannya udah pada kriminal gitu…
    Kasian orangtuanya lha wong udah sekolahin anak dengan harapan jadi orang pinter, berbudi, lha kok malah jadi perusuh dan (pembunuh) pula…

    smoga gak ada lagi deh tawuran-tawuran dan kebrutalan-kebrutalan lainnya.

  10. septarius says:

    ..
    kemungkinan mereka tawuran karena solidaritas sama teman dan motif balas dendam..
    untuk aku yg warga mars aja kadang susah memahami, apalagi untuk warga venus seperti Mbak kris..hehe.. *efek baca buku* ^^
    ..

  11. Wong Cilik says:

    tawurannya mengerikan, seperti preman saja sampai ada korban jiwa …
    semoga kedepan tidak ada tawuran lagi …

  12. setyo says:

    mungkin mereka kurang punya wadah untuk aktivitas yang menarik.

  13. tumben belum apdet mbak? jangan2 ikut tawuran, eh maksudnya terjebak dalam tawuran lagi hihihihi

    salam, ^_^

    lagi nggak bisa konek, din hehehe. ini pun lagi numpang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s